Jejak Megah Kesultanan: Menjelajahi 5 Keraton Bersejarah di Kalimantan Barat - Wisata Khatulistiwa

Home Top Ad

Post Top Ad

Jejak Megah Kesultanan: Menjelajahi 5 Keraton Bersejarah di Kalimantan Barat

Fasad depan Keraton Kadriah Pontianak, bangunan kayu kuning megah dengan arsitektur rumah panggung tradisional.

Indonesia memang tidak pernah kehabisan pesona. Selain kekayaan alamnya yang mendunia, negeri kita tercinta ini menyimpan potongan sejarah yang berharga. Salah satu cara terbaik untuk mengenalnya adalah melalui wisata sejarah.


Di Kalimantan Barat, jejak kejayaan masa lalu masih berdiri tegak dalam bentuk keraton-keraton megah yang tersebar di berbagai kabupaten. Mari kita intip satu per satu kemegahannya!

1. Keraton Alwatzikhoebillah, Sambas

Begitu melangkahkan kaki ke dalam area istana, kamu akan langsung disambut oleh nuansa kayu yang hangat dan kokoh. Pintu masuk utamanya dikenal dengan Gerbang Segi Delapan.


Sesuai namanya, gerbang setinggi dua tingkat dengan luas 76 meter persegi ini memiliki bentuk oktagon yang unik dan sarat filosofi. Menariknya, fungsi tiap lantai berbeda:

  • Lantai Bawah: Dahulu digunakan sebagai tempat penjagaan sekaligus area istirahat bagi rakyat yang ingin bertemu Sultan.
  • Lantai Atas: Berfungsi sebagai pusat pengaturan penjagaan, dan pada momen tertentu, digunakan sebagai tempat menabuh gamelan serta alat kesenian lainnya.


2. Keraton Amantubillah, Mempawah

Didominasi oleh warna hijau muda yang segar, Keraton Amantubillah menyambut pengunjung dengan pesan mendalam di gerbang utamanya: "Mempawah Harus Maju, Malu Dengan Adat".


Setelah melewati gerbang, mata kita akan dimanjakan oleh hamparan halaman rumput hijau yang luas, lengkap dengan beberapa meriam tua yang tertata apik. Kompleks istana ini terbagi menjadi tiga bagian: bangunan utama, sayap kanan, dan sayap kiri. Dahulu, bangunan utamanya merupakan singgasana bagi raja, permaisuri, dan keluarga kerajaan.

3. Keraton Kadriah, Pontianak

Inilah istana terbesar di Kalimantan Barat! Berdiri megah di tepi sungai, Keraton Kadriah yang sudah berusia lebih dari 300 tahun ini memiliki ukuran sekitar 30 x 50 meter dengan arsitektur tiga tingkat yang mengagumkan.


Sejarah mencatat estafet kepemimpinan di sini, mulai dari Sultan Abdurrahman hingga Sultan Hamid II. Nama terakhir punya peran sangat besar bagi bangsa kita, karena Sultan Hamid II adalah sang pencipta lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Penobatan beliau pada tahun 1950 juga menjadi saksi sejarah saat Kerajaan Pontianak melebur menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Barat.

4. Keraton Ismahayana, Landak

Menghadap ke arah Sungai Pinyuh, Keraton Landak (Ismahayana) memancarkan aura khas Melayu dengan perpaduan warna kuning keemasan dan hijau. Kompleks ini terdiri dari beberapa bangunan utama, yaitu:

  • Istana Ilir: Bangunan utama istana.
  • Istana Ulu: Kediaman Permaisuri.
  • Rumah Sultan: Kediaman Neang Raja.

Arsitekturnya berbentuk rumah panggung yang memanjang ke belakang. Hebatnya, hampir seluruh bagian bangunan - mulai dari pondasi, dinding, hingga atap sirapnya - menggunakan material kayu belian yang dikenal sangat kuat.

5. Keraton Pakunegara, Tayan

Terletak persis di tepi Sungai Kapuas, Keraton Pakunegara Tayan adalah keraton ketiga yang dibangun setelah keraton sebelumnya di Rayang dan Teluk Kemilun. Bangunan berlantai dua ini masih mempertahankan arsitektur rumah panggung Melayu klasik berbahan kayu belian (kayu besi).


Diperkirakan, istana ini dibangun pada masa pemerintahan Gusti Lekar bin Gusti Dikibiri Kusuma, Raja Tayan pertama (1683–1718). Seperti kebanyakan keraton di Kalimantan yang berorientasi ke arah air, istana ini pun dibangun menghadap ke arah selatan, tepat ke arah aliran Sungai Kapuas yang tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Banner Disewakan